Takjilan Nusantara Hadirkan Rasa Kampung Halaman di Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Kotabaru kembali menggelar program takjil tahunan dengan tema kuliner Nusantara, yang bertujuan menghadirkan rasa kampung halaman bagi para perantau di Yogyakarta. Program ini menjadi bagian dari rangkaian Ramadhan yang mengangkat kearifan lokal, nilai historis cagar budaya, serta mendukung pemberdayaan UMKM setempat.

ESSAI

Wasiul Maghfiroh

3/7/20262 min read

Foto: Sajian takjilan nusantara masjid syuhada dengan menu nasi kuning (18/02/2026)

Oleh: Wasiul Maghfiroh*

Yogyakarta – Masjid Syuhada Kotabaru kembali menghadirkan program tahunan berbagi takjil selama bulan Ramadhan dengan mengusung tema kuliner Nusantara. Tema ini diangkat bukan tanpa alasan, yaitu untuk mengobati rindu akan kampung halaman, terutama bagi para perantau. Dengan demikian, jamaah dapat menikmati kekayaan kuliner Nusantara sekaligus merasakan suasana kampung halaman.

Koordinator Bidang Takjilan Masjid Syuhada, Wasiul Maghfiroh, menjelaskan bahwa tema kuliner Nusantara dalam program takjil ini telah berjalan selama empat tahun. Setiap harinya, menu yang disajikan berbeda-beda, mulai dari Rawon, Ayam Woku, Sate Madura, Soto Betawi, hingga Coto Makassar.

Wasiul menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program takjil Masjid Syuhada sangat tinggi. Hal ini disebabkan lokasi masjid yang strategis di kawasan Kotabaru, sehingga mudah dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk warga sekitar Kali Code dan mahasiswa dari berbagai kampus di Jogja.

"Karena banyak mahasiswa yang sekarang mencari takjil ke masjid-masjid. Seperti yang kita tahu, mahasiswa itu banyak yang berasal dari daerah luar Jawa, banyak perantau. Nah, kami coba hadirkan makanan dari berbagai daerah agar mereka bisa merasakan makanan khas daerah asalnya," paparnya.

Pada Jumat (6/3/2026), menu yang disajikan adalah Soto Betawi, salah satu hidangan khas Jakarta yang dikenal dengan kuah gurih dan kaya rempah. Menu ini disiapkan oleh vendor rumah makan yang telah berpengalaman dalam menyediakan hidangan tersebut. Sebelum dipilih sebagai penyedia menu, panitia terlebih dahulu melakukan proses seleksi dan uji cita rasa (test food) untuk memastikan kualitas rasa, kebersihan, serta kelayakan hidangan yang akan disajikan kepada jamaah, ujar Wasiul.

Pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, panitia biasanya menyediakan sekitar 1.000 porsi takjil setiap harinya. Namun, tahun ini jumlahnya dikurangi menjadi 700–800 porsi karena Masjid Syuhada sedang dalam proses peremajaan, sehingga kapasitas ruang sedikit terbatas. Pendanaan kegiatan berasal dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Syuhada serta dukungan masyarakat melalui donasi langsung ke stand takjilan maupun via transfer.

"Tema besar kami memang tentang kearifan lokal, tentang budaya lokal. Apalagi Masjid Syuhada ini tergolong bangunan cagar budaya, jadi yang ingin kami tonjolkan adalah nilai historis dan budayanya. Termasuk kami menekankan masakan Nusantara pada menu takjilnya," ujar Wasiul.

Program takjil Masjid Syuhada dengan konsep kuliner Nusantara ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadhan yang mengangkat tema budaya lokal, sekaligus mendukung aktivitas sosial masyarakat dan pemberdayaan UMKM di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, selama bulan suci berlangsung.

*Asrama Putri Masjid Syuhada

Editor: Humas Syuhada