Surat dari Isra' dan Mi'raj

Artikel ini mengajak pembaca untuk mengambil pelajaran mendalam dari peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yang jauh melampaui sekadar peringatan sejarah. Penulis menekankan bahwa inti utama dari perjalanan agung ini adalah perintah shalat lima waktu sebagai sarana komunikasi langsung dengan Allah dan "Mi'raj"-nya orang beriman.

ESSAI

Nur Arif Fuadi

1/19/20264 min read

Foto: Ilustrasi

oleh: Nur Arif Fuadi*

Sahabatku, beberapa waktu lalu kita diingatkan dengan momen bersejarah, yaitu Peringatan Isra' dan Mi'raj. Peringatan ini bukan sekadar mengenang perjalanan agung Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dari Makkah ke Baitul Maqdis, lalu ke langit ketujuh, tetapi mengandung pelajaran mendalam bagi kehidupan kita saat ini.

Pelajaran paling utama dari Isra' dan Mi'raj adalah perintah shalat lima waktu. Berbeda dengan ibadah lain yang wahyunya turun melalui Malaikat Jibril di bumi, perintah shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi di Sidratul Muntaha. Shalat adalah Mi'raj-nya orang beriman. Ini adalah pengingat agar kita tidak meninggalkan shalat dalam kondisi apa pun, karena shalat merupakan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Penciptanya.

Seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi setelah memahami esensi Isra' Mi'raj. Mereka tergerak membebaskan Baitul Maqdis—tempat Masjid Al-Aqsha berada (kini Palestina)—dengan spiritualitas dan strategi yang matang. Al-Aqsha memiliki nilai teologis yang sangat tinggi dan merupakan cita-cita luhur Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Nilai teologis Al-Aqsha adalah: sebagai kiblat pertama umat Islam, bahkan sejak diutusnya para Nabi dan Rasul; tempat berangkatnya Isra' dan Mi'raj dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjid Al-Aqsha (Baitul Maqdis), lalu naik ke langit dan Sidratul Muntaha; serta warisan para Nabi, yakni wilayah Syam (termasuk Palestina) yang dikenal sebagai "Tanah Para Nabi".

Peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada 'amul huzni (tahun kesedihan), yaitu tahun di mana Nabi kehilangan istri tercintanya, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib. Ketika pintu dunia terasa tertutup, Allah membukakan pintu langit. Demikianlah, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk selalu berprasangka baik. Kesulitan apa pun yang kita hadapi, pasti akan disusul kemudahan setelahnya.

Ada hal-hal yang melampaui logika manusia, namun nyata dalam kekuasaan Allah. Saat Nabi menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj yang terjadi dalam satu malam, banyak orang yang tidak percaya karena secara logika perjalanan itu tidak masuk akal pada zaman itu. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang pertama yang langsung membenarkan berita tersebut. Peringatan ini mengajak kita untuk memperkuat keimanan dan tidak hanya mengandalkan rasio semata dalam memahami agama.

Kita juga diajarkan untuk menghormati sejarah dan menjaga persatuan. Masjid Al-Aqsha adalah simbol yang menyatukan hati umat Islam di seluruh dunia, tanpa melihat batasan negara atau suku. Kunjungan Nabi ke Masjid Al-Aqsha dan mengimami shalat para Nabi sebelumnya menunjukkan bahwa Islam adalah penyempurna ajaran para Nabi dan Rasul terdahulu.

Lalu, wahai sahabatku, mengapa engkau masih merasa berat saat tiba waktu shalat? Adakah setitik rasa di hatimu, suatu kesadaran untuk merasa "seperti ada yang salah"? Mari kita merenung sejenak, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyentuh kembali sisi terdalam jiwamu. Janganlah malas shalat hanya karena kamu belum hafal bacaannya. Mulailah dari sekarang, buka kembali buku pelajaranmu tentang shalat, atau telusuri di perpustakaan dan internet tentang tata cara shalat sesuai tuntunan Nabi. Tulislah apa saja yang harus dibaca saat shalat. Dengan demikian, kamu bukan sekadar belajar tata cara, tetapi juga memperbaiki kualitas shalatmu.

Ingatlah kembali sejarah Isra' dan Mi'raj yang baru saja kita bahas. Shalat tidak turun melalui perantara malaikat di bumi. Allah mengundang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam secara langsung ke Arsy-Nya untuk memberikan perintah ini. Mengapa? Karena Allah tahu bahwa dunia ini melelahkan. Allah tahu hidupmu akan penuh tekanan, masalah, dan kesedihan. Maka, Allah memberimu shalat sebagai "pintu darurat" agar kau bisa beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Jika kau melalaikan shalat, sesungguhnya kau sedang mengabaikan kesempatan untuk beristirahat dalam pelukan kasih sayang Tuhanmu.

Bayangkan, jika seseorang yang paling kau cintai atau seorang tokoh yang sangat kau hormati mengundangmu bertemu tepat waktu, pastinya kau akan bersiap satu jam sebelumnya. Tuhan semesta alam, yang memegang detak jantungmu dan mengatur rezekimu hari ini, mengundangmu lewat azan. Saat kau menunda-nunda, bayangkan Allah "menunggu" hamba-Nya datang bersujud, sementara kita justru lebih asyik dengan ponsel atau pekerjaan yang sesungguhnya kesuksesannya ada di tangan-Nya. Bukankah itu sangat menyedihkan bagi jiwa kita?

Wahai sahabatku, pekerjaan, urusan rumah, atau tontonan di layar ponselmu tidak akan pernah ada habisnya jika kau turuti. Seringkali kita berkata, "Nanti setelah ini selesai, aku shalat," tetapi kenyataannya, satu urusan selesai, urusan lain datang. Ketahuilah, shalat adalah satu-satunya hal yang akan menemanimu di liang kubur nanti. Pekerjaan yang kau bela-bela sampai menunda shalat itu akan segera digantikan orang lain saat kau tiada, tetapi sujudmu tidak akan bisa digantikan oleh siapa pun.

Bayangkan kau sedang tenggelam di tengah lautan luas dan gelap, lalu ada seutas tali yang dijatuhkan dari langit. Tali itu adalah shalatmu. Jika kau memutus tali itu (meninggalkan shalat) atau membiarkannya kendur (menunda-nunda shalat), bagaimana kau akan selamat dari badai kehidupan? Shalat adalah satu-satunya pegangan agar kau tidak hanyut oleh kerasnya dunia.

Sahabatku, Allah tidaklah butuh shalatmu, namun kaulah yang butuh Allah melalui shalatmu. Kembalilah perlahan, satu waktu demi waktu. Allah selalu menunggumu tanpa pernah bosan. Mulailah dengan langkah kecil untuk kembali kepada Allah dengan shalatmu.

  • Jangan berpikir shalat itu berat. Katakan pada dirimu, "Aku hanya butuh 5–10 menit untuk berbicara dengan Penciptaku, setelah itu aku bebas melakukan hobiku."

  • Iman itu terkadang perlu dipaksa. Paksa dirimu berdiri saat azan berkumandang, sebelum bisikan malas itu datang. Jangan takut dengan dinginnya air wudhu.

  • Mintalah tolong kepada Allah dengan berdoa, "Ya Allah, lunakkanlah hatiku untuk bersujud kepada-Mu, dan jangan biarkan aku jauh dari-Mu."

  • "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (Q.S. Al-Baqarah: 45)

Sahabatku, Allah tidak mencari hamba yang sempurna. Allah mencari hamba yang mau kembali meski tertatih, yang mau datang meski berselimut luka. Jangan menunggu hatimu "sembuh" baru shalat. Namun, shalatlah agar hatimu sembuh. Maukah kamu mencoba satu hal kecil malam ini? Ambil air wudhu perlahan, rasakan airnya membasuh lukamu, lalu hamparkan sajadah. Tidak perlu terburu-buru, cukup bicara pada-Nya seolah Dia ada di hadapanmu.

Nasihat untuk hatimu yang terluka: mungkin kamu merasa berat karena luka dari orang lain masih berbekas. Anggaplah luka itu sebagai "pertanda" dari Allah. Allah membuatmu kecewa pada makhluk agar kau tahu bahwa hanya Allah yang tidak pernah berkhianat, tidak pernah membuatmu kecewa.

----------

Wallohu a’lam bishshowab, wa barokallohu fikum.

_______

*Guru SMP IT Masjid Syuhada


Editor : Humas Syuhada