Ramadhan: Tiket VIP Menuju Kampung Halaman

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah istimewa yang langsung dinilai oleh Allah, dan menjadi momen untuk memperbaiki diri, menghapus dosa, serta meningkatkan keikhlasan. Dengan sabar, disiplin, dan amal shalih, kita diharapkan dapat kembali ke kampung halaman sejati, yaitu surga, dengan selamat. Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah dan mempersiapkan bekal takwa untuk perjalanan akhirat.

ESSAI

Humas Syuhada

3/4/20253 min read

Ilustrasi Ramadhan: Tiket VIP Menuju Kampung Halaman

Oleh: Nur Arif Fuadi*

Shobat Smart Syuhada, Alhamdulillah segala puji bagi Alloh yang telah memberikan kita kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam, yang telah membimbing kita ke jalan yang lurus.

Pembaca yang budiman, yang sedang bersiap menyambut waktu berbuka puasa.

Sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang,

Tanda waktu kita akan menyantap menu yang terhidang,

Tapi mari sejenak kita merenung dan menimbang,

Tentang persiapan bekal untuk perjalanan pulang.

Apakah kita sudah mempersiapkan bekal? kemana? Tentunya pulang ke kampung halaman. Bulan Ramadhan ini adalah kesempatan emas, tiket VIP kita untuk pulang ke kampung halaman sejati kita, yaitu surga.

Hidup ini ibarat perjalanan panjang seperti grafik dalam Matematika. Ada titik awal, yaitu saat kita lahir, dan ada titik akhir, yaitu ketika kita kembali kepada Alloh. Sepanjang grafik ini, kadang naik, kadang pula turun. Karena begitulah perjalanan kehidupan yang kita hadapi. Perjalanan yang terlalu panjang, penuh dengan hambatan dan gangguan. Seringkali, secara sengaja ataupun tidak disengaja kita berbuat kesalahan dan dosa. Terkadang pula kita merasa kurang semangat dalam beribadah, butuh siraman iman. Namun, Alloh memberikan kita kesempatan untuk berhenti sejenak, mengisi ulang energi (berupa iman), dan memperbaiki kendaraan kita (berupa hati). Itulah bulan Ramadhan.

Seperti dalam hadits, Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh harapan akan ampunan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Akankah kita mau mencoba membatalkan puasa secara sembunyi-sembunyi? Sedangkan Alloh mengawasi orang yang berpuasa secara langsung, karena puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh Allah dan hamba-Nya. Lalu, akankah kita akan tetap berlaku maksiyat, sedangkan Alloh Maha Mengawasi? Puasa adalah bentuk keikhlasan yang tidak bisa dipalsukan, karena meskipun tidak ada orang lain yang melihat, seorang mukmin tetap menahan diri karena merasa diawasi oleh Allah. Keutamaan puasa sangat besar, karena Allah sendiri yang akan memberi balasan langsung kepada hamba-Nya.

Sebagaimana firman Alloh pada hadits qudsi, Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

"Allah berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. " (HR. Bukhori dan Muslim).

Kita akan lebih merasa sifat Alloh yang maha Mengawasi, maha Melihat, maha Mengetahui yang lahir dan yang batin di saat bulan Ramadhan daripada di bulan-bulan lainnya. Inilah momen kita untuk memanfaatkannya dengan cara memperbaiki diri, menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan menabung amal untuk bekal perjalanan pulang menuju akhirat, karena Alloh senantiasa mengawasi kita, karena Alloh senantiasa melihat kita, karena Alloh senantiasa mengetahui apa yang kita kerjakan. Dengan beginilah kita menjadi pribadi yang ihsan, yaitu kita beribadah kepada Alloh seakan-akan kita melihat-Nya. Namun jika kita tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita.

Setiap perjalanan membutuhkan perbekalan, seperti rencana perjalanan, tiket, uang, makanan, pakaian dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan perjalanan pulang ke kampung halaman sejati, aykni surga? Tentunya kita juga membutuhkan perbekalan yang serius, yakni iman, takwa dan amal sholih. Karena awal mulanya kita berasal dari surga, maka tentu harapan kita, kita bisa kembali pulang ke surga. Jika di akhirat justru masuk neraka, maka kita telah melakukan perjalanan pulang yang celaka. Itulah kesesatan, na’udzubillahi mindzalik.

Sebagaimana firman Alloh:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al Baqoroh: 197)

Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk lebih sabar, lebih disiplin, lebih bersungguh-sungguh dan lebih peduli pada sesama. Ini adalah modal utama bagi kita agar kita bisa kembali ke kampung akhirat dengan selamat.

Inilah saatnya kita membuang kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebiasaan baik, sehingga kita kembali dalam keadaan lebih suci dan lebih siap menghadapi perjalanan akhirat. Kita harus siap dengan tempaan, bersungguh-sungguh, dan berani lelah sesuai syariat dalam beribadah. Daripada kelak di akhirat kita harus lelah menahan panasnya api neraka. Mari kita jaga niat dengan meningkatkan keikhlasan, dan manfaatkan momen ini untuk lebih dekat dengan Alloh. Perbaiki puasa kita dan terus mengharap ampunanNya, agar kita benar-benar kelak menjadi orang yang beruntung, pulang ke kampung halaman dengan selamat sampai ke surga Firdaus. Aamiin

Pesan tiket VIP sebelum berangkat,
Biar mudik makin mulus.
Ramadhan ini tiket selamat,
Menuju surga Firdaus.

Wallohu a’lam bishshowab, wa barokallohu fikum.

_______

*Guru SMP IT Masjid Syuhada


Editor : Humas Syuhada