Prof. Amien Rais Isi Tarawih Malam Kedua di Masjid Syuhada, Angkat Tema Jihad di Era Modern
Yogyakarta — Malam kedua pelaksanaan salat Tarawih di Masjid Syuhada pada Rabu, 18 Februari 2026, diwarnai dengan kehadiran tokoh nasional, Amien Rais.
BERITA
Humas Syuhada
2/23/20262 min read


Foto: Ceramah Prof Amien Rais di Ruang Utama Masjid Syuhada Yogyakarta (18/02/2026)
Yogyakarta — Malam kedua pelaksanaan salat Tarawih di Masjid Syuhada pada Rabu, 18 Februari 2026, diwarnai dengan kehadiran tokoh nasional, Amien Rais. Mantan Ketua MPR RI periode 1999–2004 tersebut menyampaikan ceramah bertema “Jihad di Era Modern: Melawan Kebodohan, Kemiskinan, dan Ketidakadilan” di hadapan jamaah yang memadati ruang utama masjid.
Dalam tausiyahnya, Prof. Amien Rais mengajak jamaah untuk memahami kembali esensi agama Islam secara utuh. Ia mengibaratkan Islam seperti pesawat terbang yang tengah menuju satu tujuan utama, yakni meraih rida Allah SWT. Menurutnya, selama ini umat Islam sering kali menitikberatkan dakwah pada konsep amar ma’ruf nahi munkar—mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran—yang memang benar, namun belum sepenuhnya lengkap. Ia menekankan pentingnya dimensi lain yang tak kalah mendasar, yakni al-amru bil ‘adli wan nahyu ‘anidzulmi, menegakkan keadilan dan melawan kezaliman.
Ia menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar banyak bergerak di ranah akar rumput, seperti mendidik generasi agar rajin salat, berpuasa, dan berakhlak mulia. Namun dalam realitas sosial, terdapat pula fenomena “amar mungkar nahi makruf” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, termasuk dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah. Kezaliman berskala besar, menurutnya, kerap dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan—melalui perangkat birokrasi, aparat, maupun instrumen kekuatan lainnya—yang jika tanpa hidayah dapat melahirkan ketidakadilan ekonomi, hukum, dan sosial.
Dalam ceramahnya, ia juga menyinggung sejumlah peristiwa sosial-politik di tanah air sebagai contoh bahwa kekuasaan tanpa kendali moral dapat berdampak luas bagi masyarakat. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa Allah SWT tidak menyukai kezaliman. Setiap pemimpin zalim, ujarnya, pada akhirnya akan menuai akibat dari perbuatannya. Karena itu, umat Islam tidak boleh bersikap pasrah, melainkan harus terus menjaga semangat juang, berdoa, dan memohon pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menutup ceramahnya, Prof. Amien Rais mengutip Surat At-Taubah ayat 111 tentang janji Allah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan surga. Ayat tersebut, menurutnya, menjadi kontrak spiritual bahwa jihad dalam arti perjuangan menegakkan kebaikan dan keadilan adalah bagian dari iman. Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, ia mengajak jamaah untuk memperbanyak doa dan memperkuat komitmen spiritual. Dengan gaya khasnya, ia pun menyampaikan penutup ringan yang disambut senyum jamaah, bahwa salah satu “indikator sederhana” keberhasilan Ramadhan adalah berat badan yang menurun—bukan justru bertambah karena terlalu banyak menikmati hidangan berbuka.
Kehadiran tokoh nasional ini menambah semarak dan kedalaman refleksi spiritual pada malam kedua Tarawih di Masjid Syuhada, sekaligus menguatkan pesan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga waktu untuk membangun kesadaran sosial dan komitmen terhadap keadilan.
---------------
Humas Syuhada
Sejarah
Masjid bersejarah, penghargaan para pejuang.
Dakwah
Pendidikan
+62851-1702-1952
© 2024. All rights reserved.
