Menyikapi Teguran dan Nasihat dengan Bijak

Membahas bagaimaan menyikapi teguran dan nasihat dengan bijak, melihatnya sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang, bukan kebencian. Tulisan ini menguraikan sikap yang seharusnya dimiliki saat menerima teguran, seperti menerimanya dengan lapang dada, mendengarkan dengan baik, instrospeksi diri, serta tidak menyimpan dendam.

ESSAI

Nur Arif Fuadi

2/18/20254 min read

Gedung SMP IT Masjid Syuhada Tampak Belakang di depan Masjid Syuhada

Oleh: Nur Arif Fuadi*


Dalam interaksi sehari-hari, kita berhubungan dengan banyak orang, baik dengan keluarga, rekan kerja, lingkungan masyarakat, maupun sesama jamaah di masjid. Dalam interaksi tersebut, pasti akan ada saatnya kita menerima teguran atau nasihat dari orang lain, baik dari guru, teman, saudara, atau bahkan orang yang tidak kita kenal. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi teguran dan nasihat tersebut? Nah, menurut pendapat pembaca apakah teguran merupakan tanda kebencian, atau justru bentuk kepedulian dan kasih sayang?

Teguran sebagai Bentuk Kepedulian

Sering kali kita merasa tidak nyaman ketika mendapat teguran atau nasihat. Ada perasaan tersinggung, malu, atau bahkan marah. Sebenarnya itu hal yang lumrah. Akan tetapi, jika kita renungkan lebih dalam, teguran yang disampaikan kepada kita dengan niat baik merupakan bentuk kepedulian dan kasih sayang dari sang penegur atau pemberi nasihat. Orang yang tidak peduli dengan kita mungkin akan acuh tak acuh dan membiarkan kita dalam kesalahan tanpa memberikan peringatan. Sebaliknya, seseorang yang menegur kita dengan niat baik sebenarnya menginginkan kita mengalami perubahan dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam Islam, menasihati adalah salah satu bentuk amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Rasulullah SAW bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

"Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau bersabda, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin pada umumnya." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa nasihat adalah bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Karena agama Islam adalah penuh dengan nasihat. Nasihat untuk Allah maksudnya adalah senantiasa mentauhidkan Allah dan bertakwa pada-Nya; nasihat untuk kitab-Nya maksudnya adalah senantiasa membaca, mentadaburi dan mengamalkannya; nasihat untuk Rasul-Nya maksudnya adalah senantiasa mengikuti jejak dan bershalawat untuknya; nasihat untuk para pemimpin maksudnya adalah senantiasa mendoakan pemimpin agar senantiasa bertanggung jawab terhadap amanahnya dan mendapatkan petunjuk dalam melaksanakannya; sedangkan untuk kaum muslimin pada umumnya maksudnya adalah saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan, saling menegur jika ada yang berbuat salah dan dosa, serta saling membantu ketika berada dalam kesulitan.

Bagaimana Sikap yang Bijak Saat Menerima Teguran?

Ketika menerima teguran atau nasihat, ada beberapa sikap yang semestinya kita terapkan agar kita mendapatkan manfaat darinya:

  1. Menerima dengan Lapang Dada

Ketika menerima teguran atau nasihat hendaklah dengan lapan dada, yaitu sikap mental yang positif. Artinya, dia tidak langsung merasa tersinggung atau pun marah. Ingatlah bahwa teguran bisa menjadi cermin untuk melihat kesalahan yang mungkin saja tidak kita sadari atau yang tidak kita ketahui bahwa hal tersebut adalah salah.

  1. Mendengarkan dengan Baik

Ketika menerima teguran atau nasihat, hendaknya memperhatikan dengan penuh orang yang dengan rela hati menegur atau menasihati kita. Sangat tidak sopan jika memotong pembicaraan atau membantah tanpa memahami maksudnya terlebih dahulu.

  1. Introspeksi Diri

Orang lain kita ibaratkan cermin atas diri kita. Kita tidak dapat sepenuhnya melihat secara menyeluruh diri kita sendiri. Perlu cermin untuk melihat sisi lain yang tidak bisa kita lihat secara langsung. Itulah pentingnya orang lain sebagai subjek untuk dapat mengevaluasi. Jika memang pada diri kita terdapat kesalahan, maka akui dan segeralah berusaha untuk memperbaikinya. Itulah introspeksi diri.

  1. Berterima Kasih

Sampaikanlah terima kasih atas nasihat atau teguran yang diberikan kepada kita, karena hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut peduli terhadap kebaikan kita.

  1. Tidak Dendam atau Tersinggung

Karena nasihat dan teguran bermanfaat bagi kebaikan diri kita, maka janganlah kita sampai menyimpan rasa sakit hati, tersinggung atau bahkan mendendam dan membalas dengan kata-kata kasar. Sikap rendah hati saat menerima nasihat dan teguran akan menunjukkan kedewasaan kita.

  1. Memperbaiki Diri

Setelah menerima teguran, usahakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau masih merasa kesulitan, bisa saja meminta bantuan orang lain untuk menunjukkan jalan terbaik yang mesti kita tempuh.

Contoh Kasus di Masjid Syuhada Yogyakarta

Masjid Syuhada Yogyakarta memiliki jamaah yang beragam, mulai dari siswa, guru, dan karyawan sekolah dari tingkat TK hingga SMP, serta karyawan instansi di sekitar masjid, para pedagang, mahasiswa, dan masyarakat umum. Keberagaman ini tentu membawa dinamika dalam interaksi sosial, termasuk dalam memberikan dan menerima teguran.

Misalnya, seorang siswa yang ditegur oleh seorang jamaah dewasa karena bercanda sampai bising dan mengganggu di area shalat saat jamaah lain masih khusyuk berdzikir setelah shalat Dzuhur. Dalam situasi ini, ada dua kemungkinan respon dari siswa tersebut: menerima dengan baik dan menyadari kesalahannya atau merasa tersinggung dan membela diri. Jika siswa tersebut memahami bahwa teguran diberikan demi menjaga kenyamanan masjid sebagai tempat ibadah, ia akan belajar untuk lebih menghormati tempat ibadah dan tidak mengulangi perbuatannya. Sebaliknya, jika ia menolak teguran dengan sikap defensif, maka kesempatan untuk memperbaiki diri akan terlewatkan.

Dalam kasus lain, seorang karyawan instansi di sekitar masjid mungkin menerima teguran dari seorang imam atau jamaah lainnya karena berbicara terlalu keras di serambi masjid saat waktu shalat tiba. Masih sibuk dengan laptop dan ponselnya. Jika ia menerimanya dengan baik, maka ia akan menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga ketenangan di masjid dan memberikan contoh yang baik bagi jamaah lainnya.

Selain itu, ada pula kasus di mana seorang mahasiswi ditegur karena tidak menutup aurat dengan sempurna saat berada di area masjid. Teguran ini bukanlah bentuk penghakiman, melainkan wujud kepedulian terhadap adab di tempat ibadah. Jika mahasiswi tersebut menerima teguran dengan baik, maka ia akan lebih berhati-hati dalam menjaga penampilan sesuai tuntunan agama, yaitu dengan cara menutup aurat secara sempurna.

Demikian pula, teguran terhadap seseorang yang merokok atau menggunakan vape di sekitar masjid perlu disampaikan dengan cara yang bijak. Masjid adalah tempat ibadah yang harus dijaga kebersihan dan kesuciannya. Jika seorang jamaah yang biasa singgah sejenak di sekitar masjid ditegur karena kebiasaannya merokok di area parkir masjid atau halaman masjid, ia sebaiknya menerima teguran tersebut dengan lapang dada dan menghormati aturan yang ada.

Menegur dengan Cara yang Baik

Selain belajar menerima teguran dan nasihat dengan baik, kita juga perlu memahami bagaimana cara menegur atau menasihati orang lain dengan bijak. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana menyampaikan nasihat secara lemah lembut dan penuh hikmah. Imam Asy-Syafi'i pernah berkata:

"Barangsiapa menasihatimu secara diam-diam, maka ia benar-benar menasihatimu. Barangsiapa menasihatimu di depan orang banyak, maka sebenarnya ia sedang mempermalukanmu."

Di era teknologi saat ini, nasihat dan teguran bisa saja disampaikan dengan melalui media sosial. Sehingga objek yang diberi nasihat atau teguran semakin luas. Akan tetapi, harus tetap menjaga etika, misalnya tidak dengan menampilkan gambar wajahnya, tidak menuliskan nama dan instansinya yang berpotensi merusak nama baik dan masa depannya.

Kesimpulan

Teguran yang diberikan dengan niat baik adalah bentuk kepedulian dan kasih sayang. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk menerima teguran dengan hati yang lapang dan menjadikannya sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Di sisi lain, jika kita ingin menegur orang lain, lakukanlah dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis, penuh kebaikan, dan saling mendukung dalam ketaatan kepada Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawab.

___


*Guru SMP IT Masjid Syuhada Yogyakarta

Editor: Humas Syuhada