Mendikdasmen Hadir dalam Ceramah Tarawih Masjid Syuhada, Serukan Intregasi Agama, Ilmu, dan Amal untuk Kemajuan Umat

Pada malam Keenam pelaksanaan sholat Tarawih Ramadhan 1447 H, Ahad (22/2/2026), Masjid Syuhada Yogyakarta kembali dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti rangkaian ibadah sekaligus kajian Ramadan. Dalam kesempatan istimewa tersebut, hadir penceramah nasional sekaligus mantan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti.

BERITA

Humas Syuhada

2/23/20262 min read

Foto: Mendikdasmen, Abdul Mu'ti menyampaikan ceramah tarawih di Masjid Syuhada

Pada malam Keenam pelaksanaan sholat Tarawih Ramadhan 1447 H, Ahad (22/2/2026), Masjid Syuhada Yogyakarta kembali dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti rangkaian ibadah sekaligus kajian Ramadan. Dalam kesempatan istimewa tersebut, hadir penceramah nasional sekaligus mantan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, yang menyampaikan ceramah bertema “Agama, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Umat Islam yang Harus Selaras.” Kehadiran beliau menambah kekhusyukan sekaligus semangat intelektual jamaah yang memadati ruang utama masjid sejak selepas Isya.

Dalam pembukaannya, Prof. Abdul Mu’ti mengajak seluruh jamaah untuk mensyukuri nikmat Ramadan dan memohon agar seluruh amal ibadah diterima oleh Allah SWT. Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga momentum pendidikan dan pembentukan karakter. Mengangkat urgensi ilmu pengetahuan dalam Islam, beliau menekankan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap ilmu. Mengutip karya Educational Theory: A Quranic Outlook oleh Abdurrahman Saleh Abdullah, ia menyampaikan bahwa sekitar dua persen ayat Al-Qur’an berbicara tentang ilmu, sebuah angka yang menunjukkan betapa fundamentalnya posisi ilmu dalam ajaran Islam.

Lebih lanjut, beliau memaparkan tiga aspek utama keterkaitan ilmu dengan kehidupan umat. Pertama, ilmu berkaitan erat dengan kesalehan dan ketakwaan. Dalam Surah Fatir ayat 28 ditegaskan bahwa orang-orang yang benar-benar takut kepada Allah adalah para ulama atau mereka yang berilmu. Ilmu, menurutnya, adalah cahaya (al-‘ilmu nurun) yang membimbing manusia membedakan antara yang hak dan batil, sekaligus mengokohkan kualitas iman dan ketakwaan.

Kedua, ilmu menentukan harkat dan martabat individu maupun bangsa. Mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11, beliau menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu. Secara sosiologis, kemajuan bangsa tidak lepas dari kualitas pendidikan warganya. Indikator seperti rata-rata lama sekolah, kemampuan literasi, hingga indeks pembangunan manusia menjadi tolok ukur penting. Bahkan, konsep pembangunan global kini berkembang menuju human flourishing, di mana pendidikan menjadi fondasi utama agar bangsa tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh secara berkelanjutan dan bermartabat.

Ketiga, ilmu adalah kunci kesejahteraan atau hasanah. Beliau mengutip mahfuzhat terkenal dari Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya ilmu untuk meraih dunia dan akhirat sekaligus. Dalam konteks ekonomi modern berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), kekayaan alam tidak akan memberikan nilai tambah tanpa penguasaan ilmu dan teknologi. Tanpa ilmu, seseorang maupun bangsa akan tertinggal dan bergantung pada pihak lain.

Menyoroti kondisi literasi Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya minat baca masyarakat. Budaya membaca yang kuat dinilai mulai tergeser oleh budaya scrolling media sosial yang cenderung dangkal dalam pemahaman. Dampaknya terlihat pada capaian literasi nasional, termasuk skor PISA yang belum optimal. Untuk itu, beliau menawarkan tiga langkah strategis: membangun kebiasaan belajar secara individual melalui membaca dan menulis; menciptakan budaya belajar kolektif dengan menjadikan masjid sebagai pusat literasi dan penyedia bahan bacaan; serta mendorong kebijakan afirmatif pemerintah untuk memperbanyak distribusi buku inspiratif dan penugasan sekolah berbasis literasi, seperti resensi buku.

Menurutnya, menulis merupakan cara efektif untuk “mengikat ilmu”, sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib. Tradisi tulis-menulislah yang menjaga orisinalitas Al-Qur’an dan hadis, serta melahirkan karya-karya monumental seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang tetap relevan lintas zaman. Di penghujung ceramah, beliau mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat sinergi antara agama, ilmu, dan amal. Dengan membangun kebiasaan literasi secara pribadi dan kolektif, ia optimistis akan lahir gerakan ilmu yang mampu mengangkat derajat umat dan menjadikan Indonesia bangsa yang unggul dan berkemajuan.

Ceramah yang sarat refleksi dan gagasan strategis tersebut disambut hangat oleh jamaah. Malam Tarawih di Masjid Syuhada pun tidak hanya menjadi ruang ibadah spiritual, tetapi juga menjadi ruang pencerahan intelektual yang menginspirasi langkah nyata menuju umat yang berilmu, beriman, dan beramal.

------------------

Humas Syuhada