Masjid Kontener dan Narasi Sosial Isoprof Prof. Kunto
Dengan merujuk pada gagasan Prof. Kuntowijoyo dalam Muslim Tanpa Masjid dan konsep ilmu sosial profetik, penulis mengulas bagaimana masjid merespons fenomena masyarakat urban yang kehilangan keterikatan emosional dengan masjid. Melalui strategi kreatif seperti konten berbasis empati, funraising digital, dan bahasa sosial yang inklusif, masjid berupaya menjangkau lebih banyak kalangan sambil menjaga nilai-nilai Islam tetap relevan dan kontekstual.
ESSAI
Kholid Misyálul Haq, S.Ars
1/12/20253 min read


ilustrasi maraknya kontener masjid (gambar remake dari foto kajian ahad pagi masjid syuhada)
Oleh : Kholid Misyálul Haq*
Diksi kontener pada judul tersebut saya dapat dari kawan karib saya saat ini di masjid syuhada. Istilah tersebut muncul secara natural sebagai bagian dari candaan saat kami sedang mebuat konten untuk media sosial dan cosplay beberapa waktu untuk menjadi content creator. Hal ini juga yang nantinya akan saya singgung dalam beberapa kalimat pada tulisan masjid ini.
Sudah lama saya tidak menulis essai berkaitan dengan masjid maupun berbagai persoalan sosial yang sedang menjadi perhatian. Terakhir 2 tahun lalu dengan judul tulisan “bermegah megahan membangun masjid”. Saat ini, dengan sadar masjid mencoba melebarkan sayapnya ke berbagai ranah, seperti sosial, ekonomi, pendidikan, pengkaderan, kesejahteraan, dan banyak lagi. Masjid sedang berupaya memainkan peran lebih besar, merespons fenomena masa kini di mana masjid terasa sepi dan kehilangan keterikatan dengan umatnya.
Dalam buku Muslim Tanpa Masjid, Prof. Kuntowijoyo menjelaskan bagaimana generasi Muslim perkotaan yang hidup di tengah industrialisasi sering kali kehilangan hubungan emosional dengan masjid. Orang tua yang sibuk bekerja menitipkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan formal tanpa memberikan ruang bagi anak untuk berinteraksi dengan masjid. Akibatnya, generasi muda yang besar di lingkungan tersebut tidak memiliki keterikatan sosial maupun emosional dengan masjid. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi masjid untuk kembali menjalankan fungsinya sebagai pusat peradaban umat yang mampu mengatasi berbagai persoalan masyarakat, khususnya di sekitarnya.
Kini, masjid telah menyadari pentingnya peran dan persoalan tersebut. Berbagai strategi dilakukan untuk meramaikan masjid, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial. Di media sosial jika kita sedang mencari referensi aktivitas dan kegiatan masjid maka akan muncul paling atas adalah beberapa masjid yang menggunakan format konten yang sama. Judul dengan hook emosional dan isi konten bernuansa story telling yang seakan melarutkan siapapun yang membaca konten tersebut bisa tergugah empatinya dalam mendukung kegiatan kegiatan di masjid. Konten di media sosial juga sering kali digunakan masjid untuk sarana funraising mereka dalam mencari dana, mengumpulkan infaq dan menggalang donasi yang nantinya akan dikelola untuk kegiatan dan program yang akan Kembali pada ummat.
Dengan pendekatan sosial dan emosional, masjid menyasar warga media sosial melalui konten-konten yang mampu menarik perhatian dan empati masyarakat. Aktivitas ibadah, baik ibadah mahdah maupun ibadah ghairu mahdah, dikemas dengan pendekatan yang lebih sosial. Tidak lagi menggunakan istilah seperti "kajian" atau "majelis" secara eksplisit, konten masjid kini lebih sering diawali dengan narasi sosial yang menggugah empati. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat umum merasa lebih terhubung dan tertarik tanpa perlu merasa teralienasi oleh istilah teologis yang mungkin sulit dipahami.
Fenomena ini sejalan dengan gagasan ilmu sosial profetik yang dikemukakan oleh Prof. Kuntowijoyo. Gagasan ini menekankan pentingnya menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam bahasa ilmu sosial agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas. Islam yang diilmukan menjadi jembatan untuk menyampaikan ajaran-ajaran teologis dalam bentuk yang lebih relevan dan kontekstual. Dengan demikian, istilah-istilah sosial menjadi medium yang efektif untuk menjangkau masyarakat yang mungkin kurang akrab dengan istilah-istilah keagamaan.
Sebagai contoh, banyak masjid saat ini menghindari menggunakan kata "kajian" dalam mempromosikan acara keagamaan mereka. Sebaliknya, mereka menggunakan pendekatan yang lebih emosional dengan narasi yang menggugah, seperti "membantu sesama" atau "merajut kebersamaan." Pendekatan ini lebih efektif dalam menarik perhatian masyarakat Indonesia yang secara umum lebih responsif terhadap konten dengan muatan empati. Dengan cara ini, nilai-nilai Islam dapat diterima oleh lebih banyak kalangan tanpa terhalang oleh diksi-diksi yang bersifat eksklusif.
Namun, ada tantangan tersendiri dalam pendekatan ini. Menghindari istilah teologis bisa berisiko menurunkan pemahaman mendalam tentang ajaran Islam jika tidak diimbangi dengan upaya edukasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, masjid perlu menjaga keseimbangan antara penggunaan narasi sosial dan penyampaian nilai-nilai keislaman secara autentik.
Di era informasi ini, media sosial menjadi alat yang sangat penting bagi masjid untuk merangkul kembali peran sentralnya. Dengan konten yang kreatif dan relevan, masjid dapat mengembalikan fungsinya sebagai pusat interaksi, pembelajaran, dan pengkaderan umat. Sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Kuntowijoyo, transformasi nilai Islam ke dalam bahasa sosial adalah kunci untuk membangun peradaban yang inklusif dan kuat. Dengan strategi yang tepat, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga benteng peradaban yang mampu menjawab tantangan zaman.
----
*Founder Pojok Arsitektur, marbot Masjid Syuhada Yogyakarta
Editor: Humas Syuhada
Sejarah
Masjid bersejarah, penghargaan para pejuang.
Dakwah
Pendidikan
+62851-1702-1952
© 2024. All rights reserved.