Make Syuhada Great Again
Tulisan ini mengajak memanfaatkan momentum pemugaran fisik Masjid Syuhada untuk membangkitkan peran nonfisiknya sebagai masjid warisan bangsa dan simbol perjuangan kemerdekaan, agar naik kelas menjadi sentra kemasjidan serta mediator isu kebangsaan dan global di Jogja hingga nasional. #MakeSyuhadaGreatAgain
ESSAI
Kholid Misy'alul Haq, S.Ars
9/11/20263 min read


Foto: Sketsa berwarna dari foto drone (by:sidiqrilo) Masjid Syuhada
Oleh : Kholid Misyálul Haq*
Belakangan ini, suasana di Masjid Syuhada tidak sepenuhnya seperti biasa. Ada bagian yang sedang dibongkar, ada yang sedang dipasang, ada ruang yang untuk sementara ditutup. Debu, bunyi alat, dan lalu-lalang pekerja menjadi pemandangan yang mungkin sudah tidak asing. Bagi yang datang untuk salat, langkah mungkin perlu sedikit menyesuaikan. Bagi yang sekadar melintas, pemandangan itu bisa menjadi pengingat sederhana: sebuah rumah besar yang sering menjadi tempat singgah dan menjadi tempat pulang biasanya saat ini sedang dirapikan.
Momentum seperti ini tidak datang setiap hari. Orang-orang datang untuk salat, melihat perubahan, atau sekadar duduk sebentar. Pemugaran fisik memang sedang berjalan. Namun, di balik kerja batu, kayu, dan cat, ada pekerjaan yang lebih halus dan tak selalu terlihat: memugar peran, jejaring, dan dampak. Di tengah semua kerja fisik itu, ada satu pekerjaan yang jangan sampai tertinggal: membangun kembali peran besar Masjid Syuhada dan ada pekerjaan besar yang menunggu, yaitu pemugaran nonfisik.
Pemugaran fisik memang penting. Bangunan yang nyaman, bersih, dan megah akan memberi wajah baru. Namun wajah baru tanpa ruh baru hanya akan menjadi kemegahan yang sepi. Kurang elok bila momentum pemugaran tidak sekaligus dipakai untuk menata program yang efisien, berdampak, dan berkelanjutan. Di sinilah potensi besar Masjid Syuhada yang selama ini tak selalu terlihat perlu dibaca ulang. Sudah menjadi fakta bahwa Masjid ini adalah salah satu masjid modern tertua di Yogyakarta. Ia juga simbol perlawanan rakyat Kotabaru, bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan dan pascakemerdekaan Indonesia.
Pada masa awal kemerdekaan, masjid ini pernah menjadi pusat intelektual dan spiritual. Ia bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang berkumpul, belajar, dan merancang masa depan. Maka, sudah selayaknya potensi itu tidak dibiarkan tidur. Hari ini, ketika dunia bergerak cepat dan persoalan bangsa semakin berlapis, Masjid Syuhada dapat naik kelas. Ia bisa menjadi mediator berbagai isu global dan kebangsaan. Ia bisa menjadi inisiator aksi-aksi progresif. Bukan hanya merespons, tetapi juga menggerakkan.
Sebagai masjid agung kota yang bersejarah, Masjid Syuhada memiliki peluang memperkuat sentralitasnya. Ia dapat menjadi masjid perwakilan Yogyakarta: menghubungkan umat, gagasan, dan gerakan. Masjid Syuhada dapat menjadi konektor bagi isu lokal, nasional, maupun global. Dari ruang-ruangnya, lahir kegiatan besar yang berdampak, bukan sekadar acara seremonial. Dengan begitu, Masjid Syuhada tidak hanya dikenang karena masa lalunya, tetapi juga diperhitungkan karena masa depannya.
Dalam perspektif pembagian masjid menurut Andika Saputra (2020), masjid secara fungsional dibedakan menjadi empat: masjid permukiman, masjid kampus, masjid pasar, dan masjid jami. Keempatnya saling terhubung dalam jejaring masjid. Dalam kerangka ini, Masjid Syuhada berperan sebagai masjid jami, yakni masjid yang menjadi pusat komunitas yang lebih luas. Peran itu membuka potensi besar sebagai koordinator jejaring masjid. Ia dapat menjadi titik temu antara masjid-masjid lain, sekaligus penghubung dengan pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan sumber pendanaan.
Pertanyaannya kemudian, sudahkah peran itu dimaksimalkan? Jawabannya tidak sederhana. Menggerakkan masjid besar bukan pekerjaan sekejap. Perlu tenaga yang besar, gagasan yang inovatif, kolaborasi yang luas, dan kesabaran yang tinggi. Namun, membiarkan potensi Masjid Syuhada begitu saja juga terlalu sayang. Terlalu banyak sejarah yang menempel di dindingnya. Terlalu besar makna yang dikandung Namanya serta terlalu penting posisinya bagi Yogyakarta dan Indonesia.
Maka, mengembalikan Masjid Syuhada pada kodratnya bukanlah romantisme masa lalu tetapi merupakan kerja kebudayaan dan kebangsaan. Masjid ini perlu kembali menjadi sumber kebermanfaatan besar, pusat gerakan, dan rumah bagi gagasan yang mencerahkan. Jika fisiknya dipugar, ruhnya pun harus dibangunkan. Jika bangunannya dibenahi, jejaringnya harus diperluas. Jika namanya dikenang, dampaknya harus dirasakan.
Sudah menjadi keberkahan bahwa Masjid Syuhada adalah warisan bangsa bekas darah perjuangan leluhur kita. Ia simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga pintu menuju masa depan kemasjidan. Dari Yogyakarta, ia dapat berbicara ke Indonesia. Dari sejarahnya, ia dapat melangkah ke masa depan. Saatnya merawat warisan itu dengan cara yang layak dengan menjadikannya sentra dunia kemasjidan di Jogja bahkan nasional, menjadi mediator isu kebangsaan dan global, serta menjadi inisiator aksi progresif. #MakeSyuhadaGreatAgain.
Allahu a’lam bishawab.
----
*Founder Pojok Arsitektur, Direktur Corps Dakwah Masjid Syuhada, Marbot Masjid Syuhada Yogyakarta
Editor: Humas Syuhada
Sejarah
Masjid bersejarah, penghargaan para pejuang.
Dakwah
Pendidikan
+62851-1702-1952
© 2024. All rights reserved.
