Keteladanan GBPH Prabuningrat, Ningrat Merakyat yang Dicintai Ummat.

Mengulas kehidupan H. GBPH Prabuningrat, seorang bangsawan Kraton Yogyakarta yang hidupnya penuh dedikasi di bidang agama, pendidikan, dan sosial. Kisahnya memberikan teladan bagi generasi masa kini melalui lima prinsip utama: religiusitas, disiplin, kesederajatan, ngayomi, dan ojo dumeh.

SERIAL TOKOH MASJID SYUHADAESSAI

Panji Kumoro

1/3/20257 min read

Ilustrator gambar oleh : Alfi Naila Syabani

Oleh : Panji Kumoro*

Menuliskan kehidupan tokoh memiliki kepelikan tersendiri, apalagi tokoh agama sekaligus pemimpin panutan dan telah melintasi zaman. Namun demikian kisah hidup mereka bukan mustahil untuk dirajut menjadi tulisan yang memberi maslahat bagi generasi masa kini. Kerumitan tersebut dapat sedikit diurai dengan membuat batasan, bahwa mereka adalah manusia biasa dengan segala lebih dan kurangnya. Dalam menuliskan para tokoh tersebut ditetapkan 4 (empat) kriteria guna meminimalisir glorifikasi, atau sebaliknya mengkerdilkan peran dan kontribusinya dikarenakan sentimen personal. Kriteria tersebut meliputi : pertama, para tokoh adalah sosok yang telah berpulang. Menuliskan mereka yang telah “tutup buku” dapat meminimalkan kepentingan yang bersifat temporal, hal ini disebabkan peri kehidupan mereka tidak mengalami penambahan durasi, hanya perlu direfleksikan agar tetap aktual. Kedua, prinsip mikul dhuwur mendhem jero digunakan untuk meneladani kebaikan sang tokoh, disisi lain sebagai manusia biasa yang pernah melakukan kealpaan, bukan domain tulisan ini. Prestasi kebaikan yang ditonjolkan agar memberi suri teladan bagi generasi masa kini yang memerlukan suluh dalam mengarungi masa depan dengan segala ketidakpastiannya. Ketiga, tulisan ini diikhtiarkan menggunakan sumber primer, baik tulis maupun lisan sehingga keakuratan informasi dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, hasil “pembacaan” tersebut direfleksikan guna mendapat spirit kepemimpinan yang menjadi bekal bagi generasi mendatang. Keempat, tidak semua sisi hidup tokoh dapat dituliskan, apa yang terhidang dalam tulisan ini merupakan sekian kecil dari berlaksa peristiwa yang telah terlalui. Sangat dimungkinkan person yang pernah berinteraksi dengan para tokoh tersebut memiliki persepsi yang beragam. Kemajemukan diartikan sebagai kekayaan perspektif dalam melihat sang tokoh.

1. Biografi Singkat

Dilahirkan dengan nama kecil Bendoro Raden Mas (BRM) Tinggarto pada 08 Juni 1911, merupakan putra Sultan Hamengku Buwono VIII dengan istri (garwa ampean/klangenan dalem) BRA Puspitaningdyah. BRM Tinggarto merupakan anak ke 14 dari 41 bersaudara.[1] Hubungannya dengan Gusti Raden Mas Dorodjatun, yang kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono IX adalah saudara seayah beda ibu. BRM Tinggarto menyelesaikan pendidikan di Frobel School dan tinggal di keluarga Janitz, saat menempuh pendidikan di Europese Lagere School dan MULO diasuh dalam keluarga Van Der Kwast. Pola tersebut berlanjut saat bersekolah di AMS Bandung tinggal bersama keluarga Letnan Kolonel De Boer. Kesemuanya dilalui dengan pola indekost dititipkan di rumah kediaman pembesar Belanda.[2] Sang ayah, Sultan Hamengku Buwono VIII menempuh model seperti itu untuk anak-anaknya guna mengajarkan kedisiplinan, kemampuan berbahasa asing (Belanda), dan yang terpenting sebagai siasat perjuangan guna mengetahui dengan betul karakter dan sifat penjajah kolonial, kelak di kemudian hari, BRM Tinggarto bersama GRM Dorodjatun akan memainkan peran krusial demi keberlangsungan Republik Indonesia yang baru berdiri.[3] Sebagai kakak sekaligus orang kepercayaan Sultan Hamengku Buwono IX, H. GBPH Prabuningrat menjadi representasi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam berbagai organisasi sosial, pendidikan dan keagamaan. Hal tersebut nampak dari kiprah beliau di Masjid Syuhada, PDHI, Universitas Islam Indonesia (UII) maupun Prayuwana.

H. GBPH. Prabuningrat memiliki 1 orang istri, yakni BRAy Prabuningrat (R.Aj. Siti Kamarun/R.Ay. Udasmoro), memiliki 8 orang putra dan putri secara berurutan dari yang paling tua adalah Raden Mas Tirun Marwito, SH (KRT. H. Jatiningrat, SH), R.Aj Laksmidhati (Almrh), Raden Mas Danurdoro, Raden Mas Nurusamsi wal Kamari, R. Aj. Sitoresmi, R. Aj. Nurmiatani (Almh), Raden Mas Nurrahmanu (Alm) dan R.Aj. Siti Nurani.

Semasa hidup, beragam amanah jabatan telah beliau emban dan dapat dituntaskan dengan baik. Diantaranya keterlibatan di UII diawali di Badan Wakaf UII sebagai Ketua Bidang Harta Kekayaan Yayasan, sejak 25 Juli 1970 aktif di Presidium Kerektoratan bersama Brigjen H. Sutarto dan Prof. Mr. RHA.Kasmat Bahuwinangun. Setelah memimpin di Presidium, lewat pleno Badan Wakaf diangkat sebagai Rektor definitif pada Agustus 1973 hingga 1978, dan terpilih kembali dalam jabatan yang sama periode 1978-1981, kemudian terpilih lagi masa khidmat 1981-1985.[4] Keterlibatan di lembaga sosial keagamaan, yakni Ketua Majelis Ulama Indonesia cabang Yogyakarta,[5] Masjid Syuhada sebagai Ketua Umum YASMA 1952-1982,[6] dalam kepengurusan Persatuan Djama’ah Hadji Indonesia (PDHI) menjabat sebagai Ketua Umum,[7] Selain itu Pak Prabu turut memiliki kepedulian besar pada anak-anak gelandangan dan tunawisma dengan turut mendirikan panti asuhan Prayuwana, lembaga nirlaba dan sosial yang concern pada pendidikan dan pendampingan sosial bagi kaum mustadh’afin. Beragam aktivitas yang dilalui oleh beliau, dan kebanyakan bergerak di bidang pendidikan, sosial dan keagamaan, hal ini merupakan panggilan jiwa yang didasari keimanan kepada Allah Swt, sekaligus rasa welas asih kepada sesama, tanpa membedakan bawaan primordial seperti suku, ras golongan dan partisipasi politik. Di sisi lain, keaktifan Pak Prabu, dapat dipahami sebagai peran aktif Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menjaga keharmonisan dan kehidupan beragama di Yogyakarta.[8] Pak Prabu dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin, kebapakan, sederhana serta memiliki perhatian besar terhadap perkembangan umat Islam. Salah satu kegemaran beliau yang tidak banyak dikenal khalayak adalah penyuka fotografi, banyak hasil jepretannya yang layak dinikmati sebagai hasil karya seni, hanya sayang banyak yang hilang dan tersebar diantara para putra dan putrinya.

Setelah melewati beragam pengabdian, sampailah pada masa akhir kehidupan H. GBPH Prabuningrat telah lama menderita sakit diabetes, penyakit tersebut semakin lama semakin parah disebabkan kebiasaan beliau mengkonsumsi makanan dan minuman manis. Salah satu hidangan favorit adalah gudeg dan es jeruk manis. Maka pada 31 Agustus 1982, didahului demam disertai suhu yang tinggi, menyebabkan putusnya saraf di leher, suatu hal yang harus dihindari bagi penderita penyakit gula, Allah Swt memanggil hamba-Nya yang telah banyak berbuat baik. Beliau wafat di rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta, dan dikebumikan di kompleks makam raja-raja Imogiri. Yogyakarta kehilangan salah satu putra terbaiknya, hal ini terlihat pada saat pemakamannya, ribuan rakyat Yogyakarta mengiringi sampai ke peristirahatan terakhir.[9]

2. Percikan Pemikiran

Dalam penggalan peristiwa yang dialami oleh H. GBPH Prabuningrat, terdapat suri teladan yang dapat digunakan sebagai suluh para pemimpin di masa kini. Pelajaran tersebut meliputi ; Pertama, prinsip religiusitas. Di berbagai kesempatan, H. GBPH Prabuningrat menyampaikan nasihatnya agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang dianugerahkan Allah Swt, apapun bentuknya. Beliau juga menegaskan bahwa setiap bangsawan dan abdi dalem kraton Ngayogyakarta Hadiningrat harus beragama Islam, ini menjadi simbol bahwa kraton adalah kerajaan Islam di tanah Jawa. Sejarah pengajaran agama Islam pun dilembagakan dalam institusi resmi yang disebut sekolah Tamanan. Kurikulum agama yang diajarkan dan diikuti seluruh abdi dalem pada masa periode awal kraton Ngayogyakarta terdiri atas kitab Turutan, al Qur’an beserta tafsirnya, Hukum agama Islam, tradisi upacara kerajaan yang berkaitan dengan agama (Islam), Parail, perkawinan dan talak.[10] Urgensi nilai agama disadari dengan betul oleh Pak Prabu, sehingga dalam keseharian menjadi laku harian. Kedua, prinsip disiplin. Ketegasan dalam memegang prinsip hidup dan menggiatkan kedisplinan. Bagi Pak Prabu, prinsip ini dipegang kuat, dicontohkan langsung terhadap anak-anaknya.[11]

Ketiga, prinsip kesederajadan H. GBPH Prabuningrat merupakan sosok demokratis dan egaliter. Sebagai sosok yang dibesarkan di lingkungan kraton, institusi yang melestarikan budaya feodal, namun dalam banyak sisi kehidupan Pak Prabu merupakan sosok pendobrak tradisi lama. Dalam satu peristiwa, Presiden Soekarno menyampaikan “Jangan kita hanya inggih sendika dawuh saja kayak abdi dalem” Hal tersebut menimbulkan kegusaran beliau dengan melontarkan kata-kata “Wah gimana ini Bung Karno, kayak ndak tahu saja peran abdi dalem dalam menegakkan kemerdekaan”. Hal ini dapat disimak dalam peran abdi dalem kraton yang menjadi penghubung dengan gerilyawan Republik Indonesia, puncaknya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang monumental. Fragmen lain menggambarkan Pak Prabu menyaksikan para istri bangsawan kraton Ngayogyakarta dalam berbagai acara tidak mendapat tempat maupun penghormatan yang semestinya, maka beliau memohon kepada Sultan Hamengku Buwono IX untuk dapat memberi kedudukan yang semestinya. Di lingkungan keluarga, Pak Prabu juga meminta istrinya untuk duduk di kursi dan melarangnya bersimpuh di lantai saat berbicara. Beberapa contoh di atas merupakan bukti perhatian beliau tentang memperlakukan seseorang berdasar persamaan derajat, hal yang masih tabu dalam tembok kraton kala itu. Prinsip egaliter ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pergaulannya dengan berbagai kalangan, terlebih hubungan luas dengan berbagai cendekiawan muslim. Ajaran Islam yang dibangun atas dasar tauhid tanpa memandang bawaan primordial seperti suku, ras dan golongan. Tolok ukur kemuliaan adalah ketakwaan dan kemuliaan akhlak.(Qs. al Hujurat ayat 13).

Keempat, prinsip Ngayomi. Kehadiran H. GBPH Prabuningrat dalam kapasitas Rektor Universitas Islam Indonesia dalam persidangan dengan terdakwa Maqdir Ismail, mahasiswa Fakultas Hukum UII yang dituduh makar. Kehadiran beliau dimaknai sebagai dukungan moral dan mengawal agar persidangan berjalan sesuai koridor hukum, serta memutuskan perkara seadil-adilnya. Bagi Pak Prabu, semua mahasiswa UII merupakan anak-anaknya, apabila mereka melakukan kesalahan maka harus dihukum dan punishment harus mengandung unsur edukasi.

Kelima, prinsip Ojo Dumeh. Saat menjabat sebagai Rektor UII, beliau melarang keras anak-anaknya mendaftar di kampus tertua di Yogyakarta tersebut. Di lembaga lain, semisal Masjid Syuhada, PDHI maupun Prayuawana hal tersebut turut berlaku. Sikap tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak timbul conflict of interest, sekaligus cara Pak Prabu untuk menanamkan nilai kemandirian anak keturunannya tidak bergantung pada kebesaran nama orang tuanya. Fenomena “aji mumpung” di masa kini, dengan memanfaatkan koneksi dan endorse kerabat guna mendapat kedudukan merupakan wabah yang telah menjalar di berbagai tempat. Saat pekerjaan didapat bukan berdasar kompetensi dan kinerja, namun lebih pada budaya koncoisme akan merusak sendi profesionalitas, sehingga pelayanan menurun dan akan membuka pintu keburukan lainnya. Fenomena ini marak dalam kehidupan kontemporer dengan istilah KKN (Korupsi, kolusi dan Nepotisme). Sebagai sosok yang digembleng dengan budaya disiplin tinggi dan mendalami ilmu Hukum, realita tersebut nampaknya disadari betul oleh beliau. Dimulai dengan memberi contoh keteladanan dari region terkecil, yaitu keluarga akan terus melebar di lingkungan kerja dan masyarakat. Semua dimulai dengan mencontohkan dari diri sendiri.

*Anggota Badan Pelaksana Harian (BPH) Yayasan Masjid Syuhada Yogyakarta.

Referensi:
[1] KRT Mandoyokusumo, Serat Raja Putro Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Bebadan Museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, 1980, cap-capan IV, hal. 70

[2] H. GBPH Prabuningrat, Ketika Terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949, dalam Atmakusumah (Penyunting) Tahta Untuk Rakyat Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, Jakarta :, Gramedia, 2011, hal, 182

[3] Wawancara dengan KRT Jatiningrat, SH di Komplek Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Senin, 13 Februari 2023. KRT Jatiningrat, SH yang bernama asli Raden Mas Tirun Marwito, lahir di Yogyakarta, 8 Desember 1943 adalah anak tertua dari H. GBPH Prabuningrat.

[4] Dahlan Thaib dan Mahfud MD, 5 Windu UII, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan UII Yogyakarta 1945-1984, Yogyakarta : Liberty Offset, 1984, hal. 73-74

[5] Ibid, hal. 73

[6] Panji Kumoro, Historisitas Masjid Syuhada Menggali Nilai-Nilai Kepahlawanan, Yogyakarta : YASMA Syuhada, 2017, hal. 62-70

[7] Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Persaudaraan Djama’ah Haji Indonesia (PDHI) nomor 27 tahun 1977, notaris Daliso Rudianto, SH, terdaftar pada Pengadilan Negeri Yogyakarta tanggal 19 Desember 1977, nomor 278/77.

[8] Diolah secara bebas dari wawancara dengan KRT Jatiningrat, SH pada 27 dan 29 Agustus 2017 di Komplek Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Segala aktivitas H. GBPH Prabuningrat senantiasa dilaporkan kepada Sultan Hamengku Buwono IX, kedekatan kedua tokoh ini bukan sekedar karena sama-sama putra Sultan Hamengku Buwono VIII, namun disebabkan kesamaan visi dan misi. Maka menjadi mafhum, saat GBPH Prabuningrat berpulang ke hadirat Allah Swt terlebih dahulu, di berbagai kesempatan Ngarso dalem HB IX teringat jejak-jejak pengabdian Pak Prabu.

[9] Majalah Muhibbah edisi no. 10 Th. XVI/1982, diterbitkan Lembaga Pers Mahasisiwa UII, Telah Tiada Rektor Kita, hal. 16-18.

[10] Panitya Peringatan Kota Yogyakarta, 200 tahun Kota Yogyakarta, Yogyakarta : Sub Panitya Penerbitan, 1956, hal. 65.

[11] Peristiwa dihukum karena membolos saat sekolah dirasakan betul oleh Raden Mas Tirun Marwito kecil, tak segan Sang Bapak menghukumnya dengan keras. Hal tersebut terasa manfaatnya kelak di kemudian hari, anak-anak Pak Prabu mendapat pendidikan yang selayaknya sehingga dapat bermafaat bagi masyarakat dengan porsinya masing-masing.